Frankenstein adalah kisah klasik Mary Shelley tentang ilmuwan yang menciptakan makhluk hidup. Simak sejarah, cerita, makna, dan pengaruhnya dalam budaya populer.
Frankenstein merupakan salah satu kisah horor paling terkenal sepanjang masa. Cerita tentang seorang ilmuwan yang menciptakan makhluk hidup dari bagian tubuh manusia ini telah melewati berbagai generasi dan terus muncul dalam film, komik, televisi, teater, hingga berbagai bentuk budaya populer.
Namun, ada satu hal yang sering disalahpahami. Frankenstein sebenarnya adalah nama sang ilmuwan, bukan nama monster yang ia ciptakan. Dalam novel karya Mary Shelley, sang pencipta bernama Victor Frankenstein, sementara makhluk ciptaannya tidak diberi nama khusus. Seiring berkembangnya adaptasi film dan budaya populer, nama Frankenstein kemudian semakin sering digunakan untuk menyebut sang monster.
Asal Usul Frankenstein
Kisah Frankenstein berasal dari novel Frankenstein; or, The Modern Prometheus karya Mary Wollstonecraft Shelley.
Novel tersebut pertama kali diterbitkan di London pada 1818. Library of Congress mencatat edisi pertama tersebut diterbitkan dalam tiga volume oleh Lackington, Hughes, Harding, Mavor & Jones.
Cerita ini menggabungkan unsur horor gotik dengan pertanyaan mengenai ilmu pengetahuan, penciptaan kehidupan, tanggung jawab manusia, serta hubungan antara pencipta dan ciptaannya.
British Library menyebut Frankenstein sebagai salah satu novel Inggris yang paling berpengaruh. Kisahnya berpusat pada seorang ilmuwan muda yang menggunakan metode ilmiah yang tidak lazim untuk menciptakan makhluk hidup.
Kisah Victor Frankenstein dan Sang Makhluk
Tokoh utama dalam cerita adalah Victor Frankenstein, seorang ilmuwan muda yang memiliki keinginan besar untuk memahami rahasia kehidupan.
Dalam eksperimennya, Victor berhasil memberikan kehidupan kepada makhluk yang ia susun dari bagian-bagian tubuh manusia. Namun, setelah berhasil menciptakan kehidupan, Victor justru merasa takut terhadap hasil eksperimennya sendiri.
Makhluk tersebut kemudian ditinggalkan oleh penciptanya.
Kondisi tersebut menjadi awal dari tragedi panjang. Sang makhluk harus menjalani kehidupan sebagai sosok yang ditolak dan ditakuti oleh manusia karena penampilannya.
Alih-alih sekadar menjadi monster tanpa perasaan, karakter tersebut dalam novel digambarkan memiliki kemampuan berpikir, belajar, merasakan kesepian, serta menginginkan hubungan dengan manusia.
Mengapa Kisah Frankenstein Begitu Tragis?
Salah satu kekuatan utama Frankenstein terletak pada sisi kemanusiaan sang makhluk.
Ia tidak dilahirkan sebagai sosok jahat. Salah satu konflik utama cerita justru muncul dari bagaimana masyarakat memperlakukannya karena penampilan fisiknya.
Penolakan yang terus-menerus membuatnya mengalami kesepian dan kemarahan. Hubungannya dengan Victor kemudian berkembang menjadi konflik antara pencipta dan ciptaan yang sama-sama mengalami penderitaan.
Karena itu, Frankenstein tidak hanya dapat dibaca sebagai cerita horor. Novel tersebut juga dapat dipahami sebagai kisah mengenai kesendirian, penolakan sosial, ambisi, dan konsekuensi dari tindakan manusia.
Frankenstein dan Pertanyaan tentang Ilmu Pengetahuan
Salah satu tema yang membuat Frankenstein tetap relevan adalah hubungan antara ilmu pengetahuan dan tanggung jawab.
Victor memiliki ambisi untuk menemukan cara menciptakan kehidupan. Namun, keberhasilannya tidak diikuti kesiapan untuk bertanggung jawab terhadap makhluk yang telah ia ciptakan.
Konflik tersebut menimbulkan pertanyaan penting: Apakah manusia boleh melakukan sesuatu hanya karena secara ilmiah hal tersebut mungkin dilakukan?
Pertanyaan seperti ini membuat Frankenstein sering dibaca bukan hanya sebagai karya horor, tetapi juga sebagai cerita yang membahas konsekuensi ambisi ilmiah.
Julukan The Modern Prometheus dalam judul novel juga memperkuat gagasan tersebut. Prometheus dalam mitologi Yunani dikenal karena memberikan api kepada manusia, sehingga menjadi simbol pencurian pengetahuan atau kekuatan yang sebelumnya berada di luar jangkauan manusia.
Frankenstein Bukan Nama Sang Monster
Kesalahpahaman mengenai nama monster merupakan salah satu warisan terbesar adaptasi budaya populer.
Dalam novel Mary Shelley, Victor Frankenstein adalah ilmuwan yang menciptakan makhluk tersebut. Sang makhluk sendiri tidak memperoleh nama seperti manusia pada umumnya.
Namun, sejak awal perkembangan budaya populer, penyebutan Frankenstein semakin melekat pada karakter monster.
Library of Congress mencatat bahwa pada akhir abad ke-19, nama Frankenstein dan makhluk ciptaannya sudah mulai bercampur dalam persepsi publik. Perkembangan film kemudian semakin memperkuat anggapan bahwa Frankenstein adalah nama sang monster.
Frankenstein dalam Dunia Film
Perjalanan Frankenstein ke dunia perfilman turut membentuk wajah karakter yang dikenal masyarakat saat ini.
Salah satu film paling berpengaruh adalah Frankenstein produksi Universal pada 1931 yang disutradarai James Whale dan menampilkan Boris Karloff sebagai sang monster.
Library of Congress menyebut gambaran monster dengan kepala datar dan baut di bagian leher yang sangat dikenal hingga sekarang merupakan gambaran yang dibentuk oleh film 1931 tersebut.
Menariknya, desain visual tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan deskripsi monster dalam novel Mary Shelley. Film kemudian menciptakan identitas visual baru yang akhirnya menjadi bagian penting dari budaya populer.
Film Frankenstein juga kemudian masuk dalam National Film Registry Amerika Serikat sebagai salah satu karya yang dipilih untuk pelestarian sejarah film.
The Bride of Frankenstein
Popularitas Frankenstein berlanjut melalui The Bride of Frankenstein yang dirilis pada 1935.
Film tersebut kembali menampilkan Boris Karloff sebagai monster dan memperkenalkan gagasan mengenai penciptaan pasangan bagi sang makhluk. Film ini disutradarai James Whale dan menjadi salah satu karya penting dalam sejarah film horor klasik.
The Bride of Frankenstein kemudian masuk National Film Registry pada 1998, menunjukkan besarnya pengaruh film tersebut dalam sejarah perfilman Amerika.
Frankenstein dalam Komik dan Budaya Populer
Pengaruh Frankenstein tidak berhenti di dunia film. Karakter tersebut juga berkembang dalam komik dan berbagai bentuk hiburan.
Library of Congress mencatat bahwa Frankenstein telah tampil dalam berbagai versi komik sebagai monster, penjahat, pahlawan, hingga karakter yang dipertemukan dengan tokoh-tokoh lain.
Karakter tersebut bahkan pernah muncul dalam cerita yang mempertemukannya dengan sejumlah superhero dan monster klasik lainnya.
Hal tersebut menunjukkan betapa fleksibelnya karakter Frankenstein. Kisah aslinya dapat diadaptasi menjadi horor serius, fantasi, komedi, fiksi ilmiah, bahkan cerita superhero.
Frankenstein sebagai Simbol Kesepian
Salah satu alasan Frankenstein terus bertahan dalam budaya populer adalah karena kisahnya memiliki sisi emosional yang kuat.
Sang makhluk bukan hanya sosok yang menakutkan. Ia juga merupakan individu yang tidak memiliki tempat di dunia.
Ia diciptakan oleh manusia, tetapi kemudian ditolak oleh manusia.
Kontradiksi tersebut membuat karakter Frankenstein dapat dibaca sebagai simbol seseorang yang merasa berbeda, terasing, dan tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya.
Inilah yang membuat kisah Frankenstein dapat terus ditafsirkan ulang sesuai konteks zaman.
Frankenstein dan Budaya Populer Masa Kini
Lebih dari dua abad setelah novel pertama kali diterbitkan, Frankenstein masih menjadi bagian dari budaya populer.
Karakter tersebut dapat ditemukan dalam film, serial televisi, komik, permainan video, kostum Halloween, mainan, ilustrasi, hingga berbagai produk budaya lainnya.
Library of Congress bahkan pernah mengadakan Frankenreads pada 2018 untuk memperingati 200 tahun penerbitan novel Mary Shelley. Acara tersebut berupa pembacaan novel secara penuh dan menjadi bagian dari perayaan dua abad Frankenstein.
Popularitas tersebut menunjukkan bahwa Frankenstein bukan sekadar karakter horor klasik. Ia telah berubah menjadi simbol budaya yang dapat terus diinterpretasikan oleh generasi baru.
Fakta Menarik tentang Frankenstein
Berikut beberapa fakta menarik mengenai Frankenstein:
| Fakta | Keterangan |
|---|---|
| Penulis | Mary Wollstonecraft Shelley |
| Judul lengkap | Frankenstein; or, The Modern Prometheus |
| Tahun terbit | 1818 |
| Tokoh pencipta | Victor Frankenstein |
| Nama monster | Tidak memiliki nama resmi dalam novel |
| Genre | Horor gotik dan fiksi spekulatif |
| Film ikonik | Frankenstein (1931) |
| Pemeran monster ikonik | Boris Karloff |
| Sekuel film terkenal | The Bride of Frankenstein (1935) |
| Tema utama | Ambisi, penciptaan, tanggung jawab, kesepian, dan penolakan |
Mengapa Frankenstein Tetap Relevan?
Frankenstein memiliki kemampuan untuk tetap relevan karena pertanyaan yang diangkat ceritanya tidak terbatas pada satu periode sejarah.
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan membuat pertanyaan tentang batas eksperimen manusia terus muncul dalam kehidupan modern.
Di sisi lain, persoalan mengenai penerimaan sosial, kesepian, identitas, dan tanggung jawab terhadap hasil dari sebuah tindakan juga tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karena itulah Frankenstein dapat terus dihidupkan kembali melalui berbagai adaptasi tanpa kehilangan inti ceritanya.
Kesimpulan
Frankenstein adalah kisah tragis tentang seorang ilmuwan bernama Victor Frankenstein dan makhluk yang ia ciptakan. Novel karya Mary Shelley yang diterbitkan pada 1818 tersebut bukan hanya menghadirkan cerita horor, tetapi juga membahas ambisi manusia, tanggung jawab terhadap ilmu pengetahuan, kesepian, dan penolakan sosial.
Perjalanan Frankenstein dari novel klasik ke film, komik, televisi, dan berbagai bentuk budaya populer membuatnya menjadi salah satu karakter paling dikenal dalam sejarah horor.
Menariknya, sosok yang sering disebut Frankenstein sebenarnya adalah makhluk ciptaan Victor Frankenstein, sementara Frankenstein sendiri merupakan nama sang ilmuwan. Kesalahpahaman tersebut justru menjadi bagian dari perjalanan panjang karakter ini dalam budaya populer.
Lebih dari 200 tahun setelah kemunculannya, kisah Frankenstein masih menunjukkan bahwa monster paling tragis terkadang bukanlah makhluk yang diciptakan manusia, melainkan konsekuensi dari tindakan manusia itu sendiri.